-
Anda butuh bantuan?
Tampilkan postingan dengan label Kuliah Lapangan. Tampilkan semua postingan
Memahami Kehidupan Pekerja Seks: Kuliah Lapangan Psikologi Sosial
Pertama kali mendengar kata Sarkem atau Pasar Kembang, satu makna yang terlintas di benak saya saat itu adalah pasar kembang, tempat dimana orang berjualan kembang (baca: bunga) yang biasanya digunakan untuk keperluan berziarah ke makam. Jika orang awam ditanyakan hal yang serupa, pastilah mereka akan berpikiran sama seperti saya.
Hal ini yang pertama kali tersirap dalam pikiran, ketika dosen Psikologi Sosial kami, M.Widjanarko S.Psi, M.Si, akan mengajak kami untuk kuliah lapangan mengenalkan kasus sosial pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus dan membekali mahasiswa agar memiliki pengalaman di lapangan.
Pemikiran awal, memiliki bentuk logika yang nyata. Senin, 27 Mei 2013 jam 20:00-an akhirnya kami berada di Pasar Kembang. Sepertinya masyarakat Yogyakarta, siapa yang tak mengenal Sarkem dari pejabat, pegawai, mahasiswa, pedagang hingga tukang becak, mereka semua tahu tentang Sarkem. Ya, Pasar Kembang atau yang lebih populer dengan sebutan Sarkem merupakan lokalisasi prostitusi terbesar di Yogyakarta, dekat jalan terkenal di Yogyakarta, Malioboro.
Disanalah para PS (baca: pekerja seks) menjalani kehidupan malamnya. Meskipun tidak sebesar Dolly di Surabaya atau Sunan Kuning di Semarang, Sarkem tetap memiliki magnet tersendiri bagi para penikmatnya ataupun bagi para orang-orang yang ingin sekedar tahu lebih tentang kehidupan pekerja seks di Sarkem, Yogyakarta. Salah satu hal unik dari Sarkem ini adalah letaknya. Jika di kota-kota lain lokalisasi prostitusi terletak di pinggiran kota atau wilayah terpencil, Sarkem justru berada di pusat tujuan wisata Malioboro tepatnya di Gang III RW Sastrowijayan. Di gang itulah berjajar losmen-losmen tempat para PS menawarkan jasanya. Tempat lokalisasi prostitusi yang terletak di pusat tujuan wisata Malioboro menjadi hal yang menarik untuk ditelisik lebih jauh lagi.
Berawal dari rasa ingin tahu dan mendapatkan pengalaman lapangan, saya mulai membuka wawasan baru dengan menemui anggota bunga Seroja dan perwakilan dari PKBI Yogyakarta yang mendampingi PS. Lokalisasi prostitusi Sarkem telah ada sejak zaman Kolonial Belanda dan terus mengalami perkembangan di era Kemerdekaan. Menurut data yang mengalami dihimpun PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) Yogyakarta, saat ini tercatat 300-an lebih pekerja seks yang berada di Sarkem dan jumlah tersebut mengalami peningkatan dari tahun ketahun.
Praktik prostitusi bukanlah hal yang baru di masyarakat, tak ada peraturan pasti yang melarang ataupun melegalkan praktik prostitusi tersebut. Kita tahu bahwa prostitusi merupakan salah satu bentuk perilaku sosial yang ada di sekitar kita dan kita juga tahu bahwa menjadi seorang pekerja seks dilarang oleh agama dan norma. Tapi apakah kita tahu, mengapa mereka tetap menjadi seorang pekerja seks walaupun mereka tahu tentang larangan- larangan yang ada dan mereka juga tahu tidak sedikit masyarakat yang beranggapan bahwa mereka hanya sampah masyarakat yang hanya akan merusak moral. Jika kita mau lebih memahami dan mendengarkan suara mereka sebenarnya dibalik itu semua banyak faktor yang melatarbelakangi pekerjaan yang mereka geluti.
Lika-Liku Kehidupan ‘PS’
S, salah seorang anggota perkumpulan bunga seroja menuturkan bahwa semenjak ditinggal pergi suami, ia terpaksa menjadi seorang PS demi mengemban tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga untuk mencukupi kebutuhan ketiga anaknya. Pihak keluarga tidak tahu menahu tentang pekerjaannya, yang mereka tahu adalah ia bekerja di sebuah toko. Sampai suatu ketika anak keduanya mengetahui pekerjaan yang sebenarnya, S sempat berhenti menjadi PS pada tahun 2004-2009. Tetapi lagi-lagi karena tuntutan ekonomi terpaksa ia kembali menggeluti pekerjaan dalam dunia hingar bingar malam. Menyinggung tentang penghasilan PS, S mengatakan, “Tidak ada jumlah pasti yang didapat, bisa dari Rp 80.000 - 150.000 per-satu pelanggan tergantung dari berapa pelanggan yang diperoleh dalam satu hari dan usia PS, semakin muda semakin mahal pula tarifnya”.
S didampingi PKBI, membentuk Perkumpulan Bunga Seroja dan aktif dalam Perhimpunan Perempuan Pekerja Seks Yogyakarta (P3SY), kemudian menggencarkan sosialisasi program pencegahan penularan HIV AIDS di kalangan pekerja seks. Melalui penggunaan kondom, diskusi dan tes kesehatan.
Jika S bekerja sebagai PS lantaran tuntutan ekonomi, lain halnya dengan Srt, seorang mantan PS, dahulu karena sering mengalami KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga) oleh suami, maka kemudian memutuskan untuk terjun ke dunia prostitusi sebagai pekerja seks. Saat ini Srt telah memiliki suami sehingga ia berhenti sebagai PS. Hari-harinya disibukkan dengan bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan aktif menjadi anggota perkumpulan bunga seroja.
Banyak kegiatan positif yang dilakukan oleh para pekerja seks, diantaranya melalui perkumpulan bunga seroja. Bunga seroja merupakan salah satu wadah bagi para PS untuk menyalurkan anspirasi dan ide kreatif. Salah satu kegiatan yang mereka lakukan adalah ketika bulan Ramadhan, para PS memiliki kegiatan pengajian di area kompleks Sarkem. Pada bulan Ramadhan PS juga melaksanakan ibadah puasa layaknya umat muslim yang lain. Mereka ‘beroperasi’ setelah usai sholat tharawih sampai menjelang sahur, selebihnya tempat mereka tutup guna menghormati bulan suci Ramadhan. Pemeriksaan berkala HIV AIDS merupakan agenda rutin yang mereka ikuti, bersama PKBI juga mereka mensosialisasikan pemakaian kondom dan HIV AIDS. Kaitannya dengan HIV AIDS Dinkes setempat, sekitar 12,9 persen WTS di kawasan Jalan Pasar kembang, Sosrowijayan,Yogyakarta telah terkena penyakit menular seksual. Kesadaran dari diri sendiri mendorong mereka peduli akan HIV AIDS.
Menjadi seorang PS bukanlah hal yang mudah. Perlakuan kasar dan kekerasan dari pelanggan, persaingan antar PS, razia, cacian, hubungan mutualisma dengan pemilik losmen menjadi warna dalam kehidupan mereka. Tidak lepas hanya sekedar ukuran materi semata, aspek psikologis pun ikut andil di kehidupan para PS. Bagaimana tidak, gejolak batin yang mereka alami merupakan pilihan sebagai PS dan masalah-masalah yang ada di sekitar mereka merupakan jalan hidup yang harus mereka tapaki walaupun jalan itu terjal dan berliku. Orang lain bisa berkata apapun tentang mereka, tapi siapa mereka hanya mereka yang tahu dan hanya mereka pula yang memutuskan.
Seharusnya kita sadar dan memahami bahwa seorang Pekerja Seks adalah wanita yang memiliki perasaan, serta tetap seorang ibu dari anak-anaknya. Pekerja Seks yang dianggap sebagian masyarakat sebagai sampah, namun setidaknya sampah itu masih memiliki nilai di mata keluarga dan lingkungan sekitar. Pepatah lama mengatakan siapapun dapat berubah menjadi lebih baik. Beri mereka dukungan, bukan cacian atau makian atas kesalahan yang mereka lakukan.
(Oleh: Mega Sandy Ayutama - Mahasiswi Semester 2 Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus).
”Pangestu bukan agama dan tidak mengarah kepada pembentukan agama baru serta bukan aliran kepercayaan atau kebatinan”, kata Titik Rumsari, pemateri dari Pangestu di gedung serbaguna Universitas Setia Budi, Solo. Senin, (27/6/2013)
Puluhan mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Muria Kudus (UMK) saat mengikuti Kuliah Lapangan Psikologi Indonesia yang ingin tahu banyak tentang Pangestu tampak antusias mengikuti diskusi. Titik, pemateri pertama mengajak audiens mengenal secara dekat profil Pangestu, sehingga tidak ada bias atau stigma negatif yang muncul. Seperti dipaparkannya, Pangestu adalah singkatan dari “Paguyuban Ngesti Tunggal”,
Pangestu hadir menjadi terobosan dalam lakon hidup masyarakat spiritual modern yang kian memudar karena gerusan modernitas. Kekeringan spiritual mengundang nestapa masyarakat modern, the plight of modern man. Keberagamaan menjadi kering atau sekedar formalitas belaka, bahkan sebagian orang cenderung membenturkannya dengan ranah politik. Melihat rekam keberagamaan yang sedemikian akut, R. Soenarto bersama dengan anggota lain dari Surakarta menggagas berdirinya Pangestu, 20 Mei 1949 silam.
Kesalehan Spiritual dan Sosial
Pangestu memiliki makna mendalam yang disarikan ke dalam visi-misinya. Paguyuban, berarti perkumpulan yang dijiwai oleh hidup rukun dan semangat kekeluargaan. Ngesti diartikan sebagai upaya batiniah yang didasari dengan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sementara Tunggal adalah tujuan dari pagyuban ini, bersatu dalam hidup bermasyarakat dan bersatu kembali dengan Tuhan Yang Maha Esa. “Jadi Pangestu tempat berkumpulnya orang-orang yang ingin melatih batin agar dapat bersatu dalam hidup sesama dan bersatu dengan Tuhan”, tegasnya.
Seperti dijelaskannya, Pangestu merupakan kancah pendidikan dan pengolahan jiwa agar para anggotanya memiliki jiwa yang sehat dan kuat serta berbudi luhur. Pendidikan dan pengolahan jiwa yang ingin digalakkannya sebab dalam pandangan Pangestu, manusia memiliki sedikitnya tiga potensi dasar yakni organ kasar berupa panca indera, jiwa yang di dalamnya terdapat nalar, perasaan dan nafsu, serta rahsa jati atau ruhani. Manusia tidak boleh hanya ada di alam kasar yang inderawi, jiwa dan batinnya harus diolah sehingga dapat mencapai dimensi ruhani. Inilah yang disebut dengan “Candra Jiwa Indonesia”.
Candra Jiwa Indonesia diterjemahkan ke dalam laku hidup yang berlandaskan Hasta Sila (Tri Sila dan Panca Sila). Tri sila berisi pedoman tiga pedoman hidup, eling (sadar), percaya (percaya), mituhu (patuh, taat). Sila-Sila ini menjadi bekal manusia ketika harus berhubungan dengan sesembahannya, Tuhan Yang Maha Esa.
Alm. Prof. Dr. Soemantri Hardjoprakoso, salah seorang Putra Indonesia, anggota Pangestu Siswa Sang Guru Sejati telah mendapatkan gelar Doktor dengan predikat cum laude dalam ilmu Kedokteran di Rijksuniversiteit di Leiden, Belanda, pada tahun 1956 dengan disertasi ilmiah berjudul: Indonesisch Mensbeeld als basis ener Psychotherapie (terjemahan dalam bahasa Indonesia : Candra Jiwa Indonesia sebagai dasar pengobatan penyakit jiwa). Disertasi tersebut bersumber dari ajaran Sang Guru Sejati yang menjelaskan keadaan manusia dan candra jiwa (anatomi jiwa) manusia. Keadaan manusia terdiri dari badan jasmani kasar (raga) dan badan jasmani halus (jiwa atau psyche) serta alam sejati (pusat sumber kehidupan) di mana roh manusia, yaitu aku sejati manusia, berada dalam satu keadaan dengan Tuhan Yang Maha Esa dalam kemanunggalan yang hakiki. Badan jasmani kasar manusia sebagaimana diuraikan dalam anatomi tubuh manusia yang dikenal dalam ilmu kedokteran yang memiliki pancaindera sebagai penghubung dengan dunia luar. Sementara dalam hubungan dengan sesama, Pangestu berpedoman pada Pancasila, yang berisi semangat filosofis hidup untuk rila (kerelaan), narima (menerima apa adanya), temen (bersungguh-sungguh), sabar (sabar) dan budi luhur. Sila-sila ini penting menjadi simpul semangat membangun kesalehan sosial.
Pengolahan jiwa dalam candra jiwa Indonesia ini berguna untuk menyiapkan sosok pribadi yang siap mengemban dua tugas, tugas pengabdian kepada Tuhan dan pengabdian masyarakat, seperti terlambang dalam logo Pangestu. “Bunga mawar melambangkan tugas ke luar yaitu melaksanakan tugas hidup bermasyarakat, dan bungan kamboja melambangkan tugas ke dalam, yaitu berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa harus dengan bekal kesucian lahir dan batin,” paparnya.
Paguyuban olah batin yang mengusung slogan “Tiada hari tanpa pemeliharaan dan penaburan pepadang serta pelayanan dengan kasih sayang” ini berkomitmen untuk terus menyemai ajaran Sang Guru Sejati, Tuhan Yang Maha Esa. Di antara sumber ajaran ini, pertama, ilmu Ketuhanan (Tauhid dan Tasawuf) yang mengajarkan dan menerangkan sifat, kebijaksanaan, keadilan dan kekuasaan serta ‘keberadaan’ Tuhan Yang Maha Tunggal.
Kedua, filsafat hidup yang menerangkan dan menjelaskan akar permasalahan dan kejadian dalam kehidupan setiap diri manusia serta bagaimana harus bersikap agar mampu mengatasi dan menanggulangi segala perkara dengan sempurna.
Ketiga, ilmu jiwa (Psikologi) yang menerangkan dan menjelaskan tentang susunan jiwa dan komponen jiwa serta fungsi, mekanisme kerja dan saling hubungannya satu dengan lainnya. Keempat, ilmu kesehatan, utamanya kesehatan jiwa yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan jasmani.
“Dengan modal sedikitnya keempat ajaran Sang Guru Sejati ini, diharapkan manusia dapat menjalankan perannya sebagai pengabdi Tuhan dan pengabdi kepada sesama”, tegasnya.
Kekeluargaan, Religius dan Nasionalis
Pangestu hadir dalam lanskap hidup anggotanya dengan membawa prinsip yang dijunjung tinggi. Prinsip-prinsip ini selain menjadi corak identitas, ia juga merupakan semangat dalam melakoni proses pelatihan jiwa di dalam lingkaran Pangestu.
Di antara prinsip ini adalah kekeluargaan dan kesetaraan. Di lingkungan Pangestu, setiap anggota adalah murid Sang Guru Sejati. Masing-masing anggota Pangestu melakukan proses pembelajaran dan pelatihan serta pelaksanaan Ajaran Sang Guru Sejati secara swadaya dan swakelola oleh dirinya sendiri. Tidak ada yang lebih senior atau junior. Semuanya, pada hakikatnya adalah sama, murid Sang Guru Sejati yang ingin menempa kualitas hidup.
Kedua, Pangestu adalah organisasi komunitas yang mengolah jiwa untuk mencapai kesalehan spiritual dan sosial. Ia bukan merupakan agama atau ingin membentuk aliran atau agama baru. Pangestu patuh dan menjunjung tinggi semangat agama sebagai basis modal sekaligus tujuan.
Ketiga, Pangestu mengusung semangat nasionalis. Ia bernaung dan sepenuhnya berasas Pancasila, dan Dasar NKRI. Ia bersifat kejiwaan, mandiri dan tidak membedakan golongan, ras, derajat, agama dan kepercayaan. Pangestu juga tidak berpolitik dan atau bergabung dalam kelompok organisasi apapun.
(Said Abdul Muthalib, Mahasiswa Semester 2, Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus).
UMK- 36 mahasiswa psikologi Angkatan 2009 pada Tanggal 10 – 16 Juli mengikuti Kuliah Lapangan di Lombak (NTB) dan Bali. Kelompok Psikologi Sosial melakukan pengamatan dan wawancara di Suku Sasak, Kelompok Psikologi Klinis mengadakan pengamatan dan wawancara di RSJ Provinsi Bali dan kelompok Psikologi Industri di Pabrik Kaos Krisna.
Tujuan KKL ini adalah mengenalkan mahasiswa secara aplikasi ilmu psikologi yang dipelajari di kampus. Liputan kelompok Psikologi social di Suku Sasak, Indonesia terkenal dengan budaya dan sukunya yang beraneka ragam. Seiring perkembangan dan kemajuan zaman, banyak budaya yang mengalami perubahan dan pergeseran dari bentuk semula dalam suatu daerah khususnya bentuk bangunan rumah adat. Di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat kita dapat menjumpainya. Di sana terdapat sekumpulan suku Sasak yang mempertahankan rumah adat mereka.
Rasa penasaran di hati kami telah terjawab ketika melihat keaslian bentuk rumah adat Sasak secara langsung dalam Kunjungan Kuliah Lapangan (KKL) Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus, Senin (11/07). Rumah berjejer dengan atap jerami terlihat asri dan tenang, seolah berada dalam masa purbakala penuh kedamaian.
Kordak Selage, sebagai pemangku adat suku Sasak Desa Sade menjelaskan komunitas Sasak diperkirakan telah ada sejak zaman prasejarah, dengan bukti fisik adanya makam nenek moyang yang menghadap ke timur, barat, dan utara. Walaupun banyak yang mengatakan nenek moyang bukan dari Jawa, namun banyak kemiripan dengan Jawa, baik dalam upacara adat atau penggunaan bahasa. Desa Sade merupakan salah satu dari Dusun Rempitan yang ada 15 dusun Rempitan satu, Rempitan dua, Rempitan Rembuk dan sebagainya. Yang masih dipertahankan mereka sebagai bentuk kekhasan Sasak yaitu rumah adatnya (Bale Gunung Rapih) yang atapnya terbuat dari jerami atau ilalang dan berdinding anyaman bambu (bedek), dengan lantai terbuat dari tanah liat yang dicampur kotoran kerbau dan abu jerami yang membuat lantai tanah mengeras, sekeras semen. Seluruh bahan bangunan (seperti kayu dan bambu) untuk membuat rumah adat Sasak didapatkan dari lingkungan sekitar mereka, bahkan untuk menyambung bagian-bagian kayu tersebut, mereka menggunakan paku yang terbuat dari bambu. Rumah adat suku Sasak hanya memiliki satu pintu berukuran sempit dan rendah, tidak memiliki jendela.
Sade berasal dari kata sade usada berarti obat dari kalimasada, lima perilaku yang bisa mengobati hati agar tenang yaitu: syukur kepada Tuhan, sabar menghadapi masalah, rendah hati (tawadhu’), senang menerima pemberian Tuhan (qonaah), dan kasih sayang terhadap sesama. Secara umum Sade digunakan nenek moyang berpindah dari tempat ramai ke tempat yang sunyi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan pedoman kalimasada ini mereka mempertahankan rumah adatnya dengan hidup sederhana untuk menjaga kesinambungan atau keberlangsungan mereka.
Tidak hanya rumah adat yang berharmoni dengan alam tetapi perilaku dalam membuat tenun juga merupakan hal yang dilakukan oleh Suku Sasak ini, mereka menenun sendiri dari kapas atau benang dengan tidak menggunakan bahan kimia atau alat modern.
Pelajaran yang sangat berarti dan menggugah hati para mahasiswa untuk hidup sederhana, apa adanya dan menjaga alam. (Anik/Info Muria)
Tujuan KKL ini adalah mengenalkan mahasiswa secara aplikasi ilmu psikologi yang dipelajari di kampus. Liputan kelompok Psikologi social di Suku Sasak, Indonesia terkenal dengan budaya dan sukunya yang beraneka ragam. Seiring perkembangan dan kemajuan zaman, banyak budaya yang mengalami perubahan dan pergeseran dari bentuk semula dalam suatu daerah khususnya bentuk bangunan rumah adat. Di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat kita dapat menjumpainya. Di sana terdapat sekumpulan suku Sasak yang mempertahankan rumah adat mereka.
Rasa penasaran di hati kami telah terjawab ketika melihat keaslian bentuk rumah adat Sasak secara langsung dalam Kunjungan Kuliah Lapangan (KKL) Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus, Senin (11/07). Rumah berjejer dengan atap jerami terlihat asri dan tenang, seolah berada dalam masa purbakala penuh kedamaian.
Kordak Selage, sebagai pemangku adat suku Sasak Desa Sade menjelaskan komunitas Sasak diperkirakan telah ada sejak zaman prasejarah, dengan bukti fisik adanya makam nenek moyang yang menghadap ke timur, barat, dan utara. Walaupun banyak yang mengatakan nenek moyang bukan dari Jawa, namun banyak kemiripan dengan Jawa, baik dalam upacara adat atau penggunaan bahasa. Desa Sade merupakan salah satu dari Dusun Rempitan yang ada 15 dusun Rempitan satu, Rempitan dua, Rempitan Rembuk dan sebagainya. Yang masih dipertahankan mereka sebagai bentuk kekhasan Sasak yaitu rumah adatnya (Bale Gunung Rapih) yang atapnya terbuat dari jerami atau ilalang dan berdinding anyaman bambu (bedek), dengan lantai terbuat dari tanah liat yang dicampur kotoran kerbau dan abu jerami yang membuat lantai tanah mengeras, sekeras semen. Seluruh bahan bangunan (seperti kayu dan bambu) untuk membuat rumah adat Sasak didapatkan dari lingkungan sekitar mereka, bahkan untuk menyambung bagian-bagian kayu tersebut, mereka menggunakan paku yang terbuat dari bambu. Rumah adat suku Sasak hanya memiliki satu pintu berukuran sempit dan rendah, tidak memiliki jendela.
Sade berasal dari kata sade usada berarti obat dari kalimasada, lima perilaku yang bisa mengobati hati agar tenang yaitu: syukur kepada Tuhan, sabar menghadapi masalah, rendah hati (tawadhu’), senang menerima pemberian Tuhan (qonaah), dan kasih sayang terhadap sesama. Secara umum Sade digunakan nenek moyang berpindah dari tempat ramai ke tempat yang sunyi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan pedoman kalimasada ini mereka mempertahankan rumah adatnya dengan hidup sederhana untuk menjaga kesinambungan atau keberlangsungan mereka.
Tidak hanya rumah adat yang berharmoni dengan alam tetapi perilaku dalam membuat tenun juga merupakan hal yang dilakukan oleh Suku Sasak ini, mereka menenun sendiri dari kapas atau benang dengan tidak menggunakan bahan kimia atau alat modern.
Pelajaran yang sangat berarti dan menggugah hati para mahasiswa untuk hidup sederhana, apa adanya dan menjaga alam. (Anik/Info Muria)
Fakultas Psikologi UMK - Nusakambangan, Setelah melewati ijin proses kunjungan dinas yang lumayan ribet dari Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Kantor Wilayah Jawa Tengah, akhirnya surat ijin kunjungan dinas keluar dan surat ijin dinas untuk kunjungan kami tembuskan melalui email dan faksimil ke Kepala Lapas Batu, Nusakambangan seminggu sebelum hari H. Tepatnya pada hari Senin, 21 Desember jam 21:00 kami berangkat menuju ke Cilacap, sebuah kota yang berada di ujung selatan Jawa Tengah berbatasan langsung dengan Pulau Nusakambangan, jam 07:00 kami sudah ditunggu feri Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Kantor Wilayah Jawa Tengah untuk menyeberang ke Nusakambangan.
Sebelum berangkat, pada hari Kamis, 16 Desember 2010 jam 14:30 kami mendapatkan pembekalan oleh dosen pengampu mata kuliah Psikologi Kriminologi, M. Widjanarko, S.Psi, M.Si. Pembekalan bagaimana kondisi geografis pulau Nusakambangan, kode etik apa yang diberlakukan di Lapas Batu, Nusakambangan dan aktivitas apa yang akan kami lakukan di sana, misalnya: wawancara dengan warga binaan (baca: narapidana) dan panduan wawancara untuk mengetahui proses terpidana masuk ke lapas yang ada di Pulau Nusakambangan. Kuliah lapangan ini bertujuan untuk mengenalkan secara langsung pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus proses penanganan pelaku kejahatan dan agar mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus bisa menjelaskan hubungan antara kejahatan dengan kepribadian seseorang.
Nusakambangan adalah nama sebuah pulau di Jawa Tengah yang lebih dikenal sebagai tempat terletaknya beberapa Lembaga Pemasyarakatan (LP) berkeamanan tinggi di Indonesia. ini masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Cilacap dan tercatat dalam daftar pulau terluar Indonesia. Untuk mencapai pulau ini orang luar atau umum harus ijin dan menyeberang dengan kapal feri dari pelabuhan khusus yang di kelola oleh Departemen Kehakiman R.I. yaitu dari Pelabuhan Sodong menyebrang ke Cilacap, Jawa Tengah selama kurang lebih lima sampai tujuh menit dan bersandar di Pelabuhan feri Wijayapura di Cilacap. Feri penyebrangan khusus ini juga di nakhodai dan di awaki oleh Petugas Pemasyarakatan (pegawai LP), bukan dari Departemen Perhubungan, feri ini khusus untuk kepentingan transportasi pemindahan narapidana dan juga melayani kebutuhan transportasi pegawai LP itu sendiri beserta keluarganya.
Kami yang berkunjung di lapas Batu, Nusakambangan di temui oleh Kabid. Pembinaan Napi Drs Djaja Tjahjana, M.Si karena Kepala Lapas sedang tugas keluar. Pak Djaja menjelaskan panjang lebar kondisi narapidana di Nusakambangan dan juga sejarahnya. Semula terdapat sembilan LP di Nusa Kambangan untuk narapidana dan tahanan politik, namun kini yang masih beroperasi hanya tinggal empat, yaitu LP Batu (dibangun 1925), LP Besi (dibangun 1929), LP Kembang Kuning (tahun 1950), dan LP Permisan (tertua, dibangun 1908). Lima lainnya, yaitu Nirbaya, Karang Tengah, Limus Buntu, Karang Anyar, dan Gleger, telah ditutup. namun sekarang sudah dibangun untuk penjara khusus narkoba dan penjara terbuka serta penjara super maksimum security
Salah satunya pernyataannya, ”Jika narapidana sudah menjalani 2/3 masa tahanan maka menjadi narapidana asimilasi yang diberikan aktivitas kerajinan dan berternak untuk bekal jika sudah keluar dari Nusakambangan, tentunya ini berlaku bukan untuk terpidana mati”.
Kondisi di Lapas Batu adalah terpidana mati sejumlah 26 orang, terpidana seumur hidup ada 30 orang, Narapidana B I (penjara di atas 1 tahun) ada 220 orang, Narapidana B II A (penjara sampai dengan 1 tahun) tidak ada dan Narapidana B III S (kurungan penganti denda) ada 4 orang.
Kami mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai warga binaan yang melakukan perampokan dan terlibat dalam jual beli, penggunaan narkoba. Setelah kunjungan dinas selesai jam 13:00 kami meninggalkan Lapas Batu, mengelilingi pulau Nusakambangan dan berakhir di pelabuhan Sodong, tempat feri berada untuk mengantarkan kami kembali ke Cilacap.
”Kuliah lapangan ini sangat menantang karena menepis anggapan pulau Nusakambangan merupakan sebuah pulau yang angker yang sangat sulit dimasukin oleh orang lain, apa karena kita jadi tamu dinas ya?,” komentar Said, salah seorang mahasisiwa yang turut dalam kuliah lapangan ini. Lain lagi dengan Opick, ”Bisa menampah pengetahuan langsung yang berhubungan dengan psikologi kriminologi, sangat menarik dan asyik’.
Pulau Nusakambangan yang memanjang dari barat ketimur sepanjang kurang lebih 36 km dan lebar antara 4 - 6 KM dengan luas keseluruhan adalah 210 km2 atau 21.000 ha kecuali tempat untuk pelaku kejahatan, memang menyimpan misteri dan daya tarik wisata seperti goa, pantai, benteng dan keindahan panorama alam, hutan cagar alam, dan hutan belantara. Wilayah selatan pulau menghadap langsung ke Samudera Hindia dengan pantai berkarangnya dan ombak besar. Wilayah utara menghadap Cilacap dan dikelilingi kampung-kampung nelayan sepanjang hutan bakau, antara lain Kampung Laut dan Jojog.
Sebelum berangkat, pada hari Kamis, 16 Desember 2010 jam 14:30 kami mendapatkan pembekalan oleh dosen pengampu mata kuliah Psikologi Kriminologi, M. Widjanarko, S.Psi, M.Si. Pembekalan bagaimana kondisi geografis pulau Nusakambangan, kode etik apa yang diberlakukan di Lapas Batu, Nusakambangan dan aktivitas apa yang akan kami lakukan di sana, misalnya: wawancara dengan warga binaan (baca: narapidana) dan panduan wawancara untuk mengetahui proses terpidana masuk ke lapas yang ada di Pulau Nusakambangan. Kuliah lapangan ini bertujuan untuk mengenalkan secara langsung pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus proses penanganan pelaku kejahatan dan agar mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus bisa menjelaskan hubungan antara kejahatan dengan kepribadian seseorang.
Nusakambangan adalah nama sebuah pulau di Jawa Tengah yang lebih dikenal sebagai tempat terletaknya beberapa Lembaga Pemasyarakatan (LP) berkeamanan tinggi di Indonesia. ini masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Cilacap dan tercatat dalam daftar pulau terluar Indonesia. Untuk mencapai pulau ini orang luar atau umum harus ijin dan menyeberang dengan kapal feri dari pelabuhan khusus yang di kelola oleh Departemen Kehakiman R.I. yaitu dari Pelabuhan Sodong menyebrang ke Cilacap, Jawa Tengah selama kurang lebih lima sampai tujuh menit dan bersandar di Pelabuhan feri Wijayapura di Cilacap. Feri penyebrangan khusus ini juga di nakhodai dan di awaki oleh Petugas Pemasyarakatan (pegawai LP), bukan dari Departemen Perhubungan, feri ini khusus untuk kepentingan transportasi pemindahan narapidana dan juga melayani kebutuhan transportasi pegawai LP itu sendiri beserta keluarganya.
Kami yang berkunjung di lapas Batu, Nusakambangan di temui oleh Kabid. Pembinaan Napi Drs Djaja Tjahjana, M.Si karena Kepala Lapas sedang tugas keluar. Pak Djaja menjelaskan panjang lebar kondisi narapidana di Nusakambangan dan juga sejarahnya. Semula terdapat sembilan LP di Nusa Kambangan untuk narapidana dan tahanan politik, namun kini yang masih beroperasi hanya tinggal empat, yaitu LP Batu (dibangun 1925), LP Besi (dibangun 1929), LP Kembang Kuning (tahun 1950), dan LP Permisan (tertua, dibangun 1908). Lima lainnya, yaitu Nirbaya, Karang Tengah, Limus Buntu, Karang Anyar, dan Gleger, telah ditutup. namun sekarang sudah dibangun untuk penjara khusus narkoba dan penjara terbuka serta penjara super maksimum security
Salah satunya pernyataannya, ”Jika narapidana sudah menjalani 2/3 masa tahanan maka menjadi narapidana asimilasi yang diberikan aktivitas kerajinan dan berternak untuk bekal jika sudah keluar dari Nusakambangan, tentunya ini berlaku bukan untuk terpidana mati”.
Kondisi di Lapas Batu adalah terpidana mati sejumlah 26 orang, terpidana seumur hidup ada 30 orang, Narapidana B I (penjara di atas 1 tahun) ada 220 orang, Narapidana B II A (penjara sampai dengan 1 tahun) tidak ada dan Narapidana B III S (kurungan penganti denda) ada 4 orang.
Kami mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai warga binaan yang melakukan perampokan dan terlibat dalam jual beli, penggunaan narkoba. Setelah kunjungan dinas selesai jam 13:00 kami meninggalkan Lapas Batu, mengelilingi pulau Nusakambangan dan berakhir di pelabuhan Sodong, tempat feri berada untuk mengantarkan kami kembali ke Cilacap.
”Kuliah lapangan ini sangat menantang karena menepis anggapan pulau Nusakambangan merupakan sebuah pulau yang angker yang sangat sulit dimasukin oleh orang lain, apa karena kita jadi tamu dinas ya?,” komentar Said, salah seorang mahasisiwa yang turut dalam kuliah lapangan ini. Lain lagi dengan Opick, ”Bisa menampah pengetahuan langsung yang berhubungan dengan psikologi kriminologi, sangat menarik dan asyik’.
Pulau Nusakambangan yang memanjang dari barat ketimur sepanjang kurang lebih 36 km dan lebar antara 4 - 6 KM dengan luas keseluruhan adalah 210 km2 atau 21.000 ha kecuali tempat untuk pelaku kejahatan, memang menyimpan misteri dan daya tarik wisata seperti goa, pantai, benteng dan keindahan panorama alam, hutan cagar alam, dan hutan belantara. Wilayah selatan pulau menghadap langsung ke Samudera Hindia dengan pantai berkarangnya dan ombak besar. Wilayah utara menghadap Cilacap dan dikelilingi kampung-kampung nelayan sepanjang hutan bakau, antara lain Kampung Laut dan Jojog.
source: portal umk
-
Nama Lengkap : Dhini Rama Dhania, S.Psi, M.Si NIS : 0610701000001222 Tempat Tanggal Lahir : Kudus, 23 Mei 1986 Email : dhaniadhi...
-
Eko A Meinarno, Sunu Bagaskara dan Mely Putri Kurniati Rosalina Abstract This study set out in the social life of the people of Indonesi...
-
Tanya: Saya mempunyai 2 anak, anak pertama kelas 5 SD dan anak kedua kelas 2 SD. Permasalahan yang ada adalah pada anak saya yang ke-2, yai...
-
Heru Astikasari Setya Murti Abstract This article is a literature review on the relationship between Metacognition and Theory of Mi...
-
Tanya: Saya, seorang ibu yang memiliki anak dua orang, berusia 9 tahun dan 6 tahun. Rasanya cemas dan ngeri kalau mendengar berita di telev...
-
Tanya: Saya orang tua dari seorang anak perempuan usia 17 tahun, yang saat ini sudah kelas 2 SMA. Pada waktu kelas 1 SMA anak kami termasuk...
-
Tanya: Saya ibu rumah tangga dengan 2 anak, yang pertama perempuan umur 5,5 tahun dan yang kedua 2 tahun. Masalahnya tejadi pada anak saya ...
-
Tanya: Saya, seorang pelajar berusia 11 tahun, seringkali tidak bisa menolak keinginan teman-teman saya ketika diajak merokok saat berkump...
-
Ria Irwina Savitri, Annisa Wulandhani, Fatmawati Indah P, Mia Sarinastiti dan Riezqy Rachmadana Abstract Nowadays, smoking habit has ...
-
Th. Dewi Setyorini Abstract Woman’s role in trade world has been recorded for ages in the past. Their existence in tradit...



