Latest News

Tampilkan postingan dengan label Konsultasi. Tampilkan semua postingan

Menolak Ajakan Teman Untuk Merokok

Tanya:
Saya, seorang pelajar berusia 11 tahun, seringkali tidak bisa menolak keinginan teman-teman saya ketika diajak merokok saat berkumpul. Hal ini saya lakukan diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua, saya takut kalau menjadi kecanduan. Bagaimana menghindari ajakan teman-teman saya?
K di Kudus

Jawab:
Adik K, saya akan mencoba untuk menerangkan dari awal sampai terakhir permasalahan yang sedang adik hadapi. Seusia adik di dalam psikologi perkembangan disebut masa remaja yang merupakan masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa karena masa transisi atau peralihan menyebabkan remaja sering mengalami masalah. Oleh karena itu disebut sebagai problem age (Hurlock, 1997).

Permasalahan yang dialami remaja berasal dari dalam diri individu sendiri misalnya masalah penyesuaian dengan perkembangan flsik, psikis dan sosial pada individu, atau juga dapat berasal dari interaksi antara kebutuhan-kebutuhan diri dengan tantangan dan tanggung jawab yang dituntut oleh lingkungan, salah satunya dari pengaruh dari teman-teman. Dalam hal ini pengaruh untuk merokok.

Seperti yang diungkap oleh Leventhal & Clearly (dalam Cahyani, 1995) terdapat empat tahap dalam perilaku merokok sehingga menjadi perokok yaitu:

Pertama, tahap preparatory, seseorang mendapatkan gambaran yang menyenangkan mengenai merokok dengan cara mendengar, melihat atau dari hasil bacaan. Hal-hal ini menimbulkan minat merokok.

Kedua, tahap initiation, tahap perintisan merokok yaitu tahap apakah seseorang akan meneruskan ataukah tidak terhadap perilaku merokok.

Ketiga, tahap becoming a smoker. Apabila seseorang telah mengkonsumsi rokok sebanyak 4 batang per hari maka mempunyai kecenderungan menjadi perokok.

Keempat, tahap maintenance of smoking. Tahap ini merokok sudah menjadi salah satu bagian dari cara pengaturan diri (self regulating). Merokok dilakukan untuk memperoleh efek fisiologis dan psikologis yang menyenangkan.


Merujuk pada konsep transmisi perilaku, permasalahan yang dihadapi oleh adik, pada dasarnya dapat ditransmisikan melalui salah satu transmisi horisontal (Berry dkk, 1992), yaitu transmisi yang dilakukan oleh teman sebaya. Adik merasa tidak enak untuk menolak tidak merokok, artinya secara psikologis mengalami konformitas sosial. Konformitas adalah sebuah fenpmena sosial di mana seseorang menye-suaikan tingkah laku, sikap, dan pandangan agar sesuai dengan orang lain atau kelompok. Di dalam konformitas ada suatu "tekanan" yang tidak kelihatan dari lingkungan sekitar yang memaksa seseorang agar bertingkah laku sesuai dengan apa yang diharapkan kelompok. Tekanan itu pada dasarnya tidak ada, tetapi menjadi ada karena dipersepsikan oleh seseorang atau diri adik. Intinya, konformitas remaja dianggap ada untuk mendapat pengakuan dari lingkungan di sekitarnya.

Karena itu, sepertinya saatnya untuk mengatakan "tidak" pada ajakan untuk merokok memang bukan keinginan yang mudah, tetapi sebaiknya mencoba untuk bersikap asertif, tegas menolak.
Semoga adik dan pembaca yang lain bisa mengambil manfaat dari jawaban ini, terima kasih.

Dijawab Oleh
M.Widjanarko, S.Psi, M.Si
Anak Sulit Diajak Komunikasi

Tanya:
Saya seorang ibu dari dua orang anak. Anak pertama saya usia 5 tahun sudah sekolah di TK. Sedangkan anak kedua saya usia 3 tahun dan sudah masuk playgroup. Anak saya yang kedua agak berbeda dengan kakaknya. Anak kedua saya sulit sekali jika diminta untuk melihat apalagi menatap mata saya ketika mengajak berkomunikasi. Untuk kemampuan bicara cenderung terlambat karena sampai usia 3 tahun bicaranya belum jelas. Selain itu anak saya susah sekali jika disuruh duduk diam dan mendengarkan untukjangka waktu lama. Yang ingin saya tanyakan apakah anak saya mengalami autis? Apa yang menyebabkan anak autis dan bagaimana penanganannya? Thanks.....
Ibu W di Kudus

Jawab:
Ibu W yang baik. Autisme adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak, yang gejalanya sudah timbul sebelum anak itu mencapai usia tiga tahun. Penyebab autisme adalah gangguan neurobiologis atau kumpulan sindrom yang mengganggu saraf dan mempengaruhi fungsi otak sedemikian rupa sehingga anak tidak mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia luar secara efektif. Anak autis memiliki gambaran unik dan karakter yang berbeda dari anak lainnya. Berikut ini karakter dari anak autis:

  • Sikap anak autis yang cenderung tidak mempedulikan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Seolah menolak berkomunikasi dan berinteraksi serta seakan hidup dalam dunianya sendiri.
  • Anak autistik juga mengalami kesulitan dalam memahami bahasa dan berkomunikasi secara verbal.
  • Memiliki respon stimulasi diri tinggi. Anak menghabiskkan sebagian besar waktunya untuk merangsang dirinya sendiri, misalnya berputar-putar, mengepak-ngepakan tangan seperti sayap, berjalan berjinjit dan lain sebagainya.
  • Sebagian anak autis berperilaku hiperaktif dan agresif atau menyakiti diri, tapi ada pula yang pasif. Mereka cenderung sangat sulit mengendalikan emosinya dan sering tempertantrum (menangis dan mengamuk). Kadang-kadang mereka menangis, tertawa atau marah-marah tanpa sebab yang jelas.

Selain berbeda dalam jenis gejalanya, intensitas gejala autisme juga berbeda-beda, dari sangat ringan sampai sangat berat. Oleh karena banyaknya perbedaan-perbedaan tersebut di antara masing-masing individu, maka saat ini gangguan perkembangan ini lebih sering dikenal sebagai Autistic Spectrum Disorder atau Gangguan Spektrum Autistik (GSA). Untuk memperoleh diagnosis yang tepat maka ibu perlu memeriksakan anak pada beberapa tim dokter ahli, seperti ahli neurologi, ahli psikologi anak, ahli penyakit anak, ahli terapi bahasa, ahli pengajar dan ahli profesional lainnya di bidang autisme.

Gangguan di otak tidak dapat disembuhkan tetapi dapat ditanggulangi dengan terapi dini, terpadu dan intensif. Jika anak mengalami gejala autisme, maka segeralah ditanggulangi. Gejala ini dapat dikurangi dan dihilangkan, sehingga anak bisa bergaul secara normal, tumbuh sehat dan berkarya. Hal ini dikarenakan adanya penanganan dini dari pihak orang tua dan keluarga, sehingga sel-sel otak baru terangsang untuk tumbuh dan meng-gantikan sel-sel otak yang telah rusak sebelumnya.

Autisme dapat terjadi pada siapa saja, tanpa membedakan warna kulit, status sosial ekonomi maupun pendidikan seseorang. Anak autis bukan bencana atau aib bagi keluarga. Mereka adalah anak-anak yang memerlukan kasih sayang, pembinaan dan pendidikan seperti halnya anak normal agar kelak mereka bisa hidup mandiri. Tidak semua anak autis memiliki IQ yang rendah. Sebagian dari mereka dapat mencapai pendidikan di perguruan tinggi. Bahkan ada pula yang memiliki kemampuan luar biasa di bidang tertentu (musik, matematika, menggambar).

Dijawab oleh :
Latifah Nur Ahyani, S.Psi. MA
Sering Mengalami Kecemasan

Tanya:
Saya seorang ibu rumah tangga usia 40 tahun, saya sering mengalami rasa takut dan cemas hingga membuat saya sering sulit tidur. Hal ini disebabkan karena saya menderita hipertensi dan vertigo, padahal putra saya masih kecil, karena itu saya sering merasa ketakutan. Meskipun saat ini tensi saya sudah turun, tetapi masih saja pusing dan merasa cemas. Kepada pengasuh rubrik Konsultasi Psikologi, tolong bagaimana solusi untuk mengatasi hal ini. Sebab, ini sangat mengganggu aktivitas saya. Atas solusinya, terima kasih.
NN di Kudus

Jawab:
Ibu NN di Kudus yang baik, saya menyadari perasaan kecemasan Ibu selama ini. Hal ini tidak lain karena perasaan sayang Ibu terhadap keluarga. Sebagai ibu rumah tangga, memang memiliki tugas yang sangat banyak dan berat, karena profesi ibu rumah tangga merupakan sebuah pekerjaan yang tidak ada hari liburnya. Namun pastilah menjadi seorang ibu rumah tangga merupakan sebuah anugerah yang luar biasa, karena seluruh waktu, tenaga dan pikiran tercurahkan untuk keluarga, sehingga tidak akan melewatkan setiap detik waktu berkumpul dengan keluarga.


Mengingat usia ibu yang sudah memasuki usia 40 tahun, di mana dalam psikologi usia tersebut menurut Hurlock (1981) termasuk dalam masa dewasa madya atau masa dewasa tengah yang dimulai pada usia 40 tahun hingga 60 tahun. Pada masa tersebut ditandai dengan menurunnya kemampuan fisik dan psikologis yang jelas. Sama halnya seperti yang ibu rasakan saat ini, yang sedang mengalami sakit hipertensi dan vertigo. Meskipun secara medis ibu sudah melakukan pengobatan agar sakit yang ibu rasakan dapat berkurang, tetapi tidak dipungkiri bahwa secara langsung ataupun tidak mempengaruhi kondisi psikologis, tekanan psikologis yang berupa kecemasan dan ketakutan akan termanifestasikan dalam kondisi fisik yang mengalami beberapa masalah.


Dalam masa transisi dari masa dewasa awal menuju ke dewasa tengah, pasti ada beberapa kesulitan yang dihadapi. Untuk itu pasti membutuhkan beberapa penyesuaian, baik penyesuaian dengan lingkungan, dengan kondisi fisik yang mulai menurun, dan kondisi psikologis yang lebih dewasa. Untuk itu, agar Ibu lebih mudah dalam penyesuaian pada masa dewasa tengah ini, ada beberapa hal perlu yang diperhatikan;

Pertama, yaitu menyadari bahwa dengan memasuki masa dewasa awal, kondisi fisik Ibu sudah tidak seperti dulu lagi, sehingga dalam melakukan kegiatan harus dapat dipilih agar tidak mempengaruhi kesehatan.

Kedua, salah satu tugas perkembangan masa dewasa madya adalah mengantarkan putra-putri untuk menjadi bahagia. Untuk itu, lebih fokus kepada perkembangan buah hati, bila saat ini ibu hanya ketakutan akan buah hati yang masih kecil ditambah permasalahan kesehatan, sebaiknya hal itu diubah menjadi sebuah keinginan untuk dapat sehat agar mampu membahagiakan keluarga dan membesarkan buah hati.

Dengan begitu, maka pemikiran dan ketakutan yang selalu menghantui berubah menjadi sebuah semangat untuk dapat menjalani hidup lebih bahagia dan lebih lama berada di tengah-tengah keluarga.

Demikian ibu NN yang dapat saya sampaikan, mudah-mudahan ibu dapat kuat dan tetap menjadi ibu rumah tangga yang sehat, baik fisik dan psikologis. Terima kasih.

Dijawab oleh:
Dhini Rama Dhania, SPsi, MSi

Teringat Mantan Pacar

Tanya:
Saya, seorang perempuan yang baru lima bulan putus dengan pacar. Sampai saat ini sebetulnya saya masih cinta sama mantan pacar saya. Tapi, saya dengar dari teman-temannya, mantan saya sudah menikah. Saya bingung memikirkan hal ini. Apa yang harus saya lakukan?
W di Kudus

Jawab:
Adik W yang baik, pertama-tama yang dilakukan adalah melakukan gerakan relaksasi, berdiri bebas dan berkosentrasi, menarik nafas panjang dengan tangan diayunkan ke depan, ke atas, ke samping sambil nafas dikeluarkan, dilakukan berulang-ulang dan berfikir secara logis serta realitas bahwa mantan pacar adik sudah menikah artinya tidak mungkin lagi adik berharap untuk kembali menjalin hubungan yang ada ikatan psikis dengan mantan adik. Mantan adik sudah memiliki kehidupan baru dengan istrinya.

Untuk itu, adik perlu segera memikirkan diri adik sendiri, menata kehidupan mulai dari mencoba untuk menghilangkan kenangan dengan mantan adik. Caranya:

Pertama, menghilangkan barang-barang yang ada hubungannya dengan mantan adik, barang-barang tersebut bisa diberikan oleh orang yang membutuhkan, misalnya: pakaian yang dulu diberikan sebagai kado ulang tahun, jika kondisinya masih baik bisa diberikan kepada tetangga atau saudara yang membutuhkan. Nomer telepon genggam mantan yang masih ada sebaiknya juga dihapus, begitu juga dengan pesan-pesan singkat yang masih ada.

Kedua, berfikirlah dengan positif bahwa kondisi ini adalah yang terbaik, bisa jadi kalau adik menikah dengan mantan akan menjadi keluarga yang tidak harmonis atau sering terjadi ketidakcocokan, Dalam psikologi hal ini disebut dengan rasionalisasi, dimana individu berusaha menalar situasi frustasinya selogis mungkin. Mmisalnya: masih banyak teman laki-laki yang bisa menjadi calon pendamping saya.

Ketiga, adik bisa curhat dengan orang-orang dekat yang bisa dipercaya atau bisa menggunakan media buku harian untuk menumpahkan uneg-uneg kesedihan dan semua kondisi psikologis, rasa yang dialami adik.

Langkah yang lain, adalah mencoba untuk melihat dunia luar di luar kehidupan adik, kita mencoba untuk rnengamati bahwa perasaan yang dialami oleh adik adalah sesuatu yang wajar dan hampir semua orang mengalami ketika dalam proses berpacaran. Bukankah berpacaran itu artinya merupakan latihan untuk mengenal lawan jenis, perilaku dan kepribadian orang di luar kita dan kita siap untuk jatuh ketika mengalami kegagalan? sepertinya adik masih beruntung dibanding orang yang lain, ketika mengalami kegagalan dalam berpacaran menjadi stress dan menjadi langganan psikolog atau psikiater.

Oleh karenanya, adik W harus segera bangkit dari keterpurukan kondisi psikologis yang tidak menentu, bersemangat untuk menatap hari depan yang tentunya harus dilakukan dengan' pemikiran baru, semua yang sudah terjadi merupakan guru yang baik untuk pengalaman hidup.
Semoga adik dan pembaca yang lain bisa mengambil manfaat dari jawaban ini, terima kasih.

Dijawab oleh: M.Widjanarko, SPsi, MSi
Bingung Tentukan Melanjutkan Ke Perguruan Tinggi


Tanya:
Soya seorang siswa yang baru saja lulus SMU, saat ini soya sedang gelisah menentukan untuk melanjutkan kuliah dimana dan dijurusan apa. Karena banyak masukan dan informasi yang soya terima membuat soya bingung sendiri. Tolong solusinya karena pendaftaran di Perguruan Tinggi (PT) sudah mulai dibuka, terima kasih.
R di Kudus

Jawab:
Terima kasih adik R di Kudus atas pertanyaannya. Pertanyaan itu mengingatkan saya akan pertanyaan di edisi yang lalu, di mana banyak siswa SMU yang baru saja lulus bingung menentukan untuk melanjutkan di mana. Beruntunglah adik R yang mempunyai kemauan dan kesempatan untuk melanjutkan sekolah di jenjang yang lebih tinggi, karena tidak menutup kemungkinan banyak teman dan adik R yang tidak dapat melanjutkan pendidikan, dengan berbagai macam masalah. Untuk itu, adik R dapat menggunakan kesempatan ini dengan sebaik mungkin.

Pada bulan Mei - Agustus ini merupakan sebuah fenomena tahunan di mana para remaja mencari bangku kuliah. Perencanaan pemilihan jurusan dan perguruan tinggi yang akan dituju bukanlah suatu perkara yang mudah. Menurut Baron & Byrne (2005) mengungkapkan bahwa pengambilan keputusan merupakan proses yang melibatkan penggabungan dan penyatuan informasi yang ada untuk memilih satu dari beberapa kemungkinan. Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika memilih jurusan kuliah, karena menyangkut masa studi yang sekian tahun dan lebih jauhnya untuk karier di masa yang akan datang.
Dengan begitu beberapa hal yang harus diperhatikan adalah : yang pertama, kenali kapasitas diri (intelektual dan finansial). Dengan mengetahui kapasitas intelektual diri dapat menyesuaikan dengan standar intelektual dari jurusan yang dituju. Begitu juga dengan finansial orang tua yang membiayai, jangan sampai berhenti di tengah jalan karena masalah biaya.

Yang kedua sesuaikan minat, bakat, kemampuan diri, dan cita-cita, jangan sampai para remaja memilih jurusan hanya karena ikut-ikutan dengan teman, atau paksaan dari orang tua, karena jurusan yang diambil merupakan bekal penting dalam memilih pekerjaan dan bergelut dengan profesi kelak.

Yang ketiga adalah kenali seluk beluk perguruan tinggi dan jurusan yang dipilih, hal yang perlu diketahui terutama mengenai akreditasi (standar kualitas) universitas dan jurusan, fasilitas, sarana prasarana, kualitas kelulusan hingga peluang kerja setelah lulus.

Keempat, mengenali peluang diterima di perguruan tinggi yang dituju, yaitu dengan mengenali jumlah peminat yang akan bersaing memperebutkan jurusan yang sama.

Dan yang kelima adalah kenali budaya, karakteristik kota perguruan tinggi. Hal ini sangat penting karena membutuhkan adaptasi lingkungan, sosial, pergaulan, gaya hidup, maupun alam.

Demikian adik R di Kudus, beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih jurusan dan universitas yang akan adik R tuju, semoga bermanfaat dan sukses dalam menapaki masa depan.

Dijawab oleh : Dhini Rama Dhania SPsi, MSi
Tidak Percaya Diri ketika Ngobrol dengan Orang Baru


Tanya:
Nama saya Alfi (Ik), umur saya 18 tahun dan saat ini saya masih duduk di salah satu SMA di Kudus. Saya merasa apabila bercakap-cakap dengan orang yang belum saya kenal atau belum akrab dengan saya, meskipun itu laki-laki maupun dengan perempuan, maka saya merasa grogi dan perasaan menjadi tidak karuan. Hal ini menyebabkan perasaan tidak percaya diri pada diri saya setiap kali memulai pembicaraan dengan orang baru yang belum akrab dengan saya. Bagaimana untuk mengatasi permasalahan tersebut?
Alfi - Kudus

Jawab:
Kepada saudara Alfi, permasalahan yang Anda hadapi mungkin banyak dihadapi oleh remaja seusia Anda saat ini. Permasalahan tersebut dianggap mengganggu sehingga sering menimbulkan ketidakpercayaan diri dalam berkomunikasi dengan orang lain. Mungkin pikiran kita mengira bahwa untuk menjalin komunikasi dengan orang lain, khususnya dengan orang baru atau orang yang belum akrab dengan kita tidak membutuhkan persiapan apa-apa..Kita mengira kan hanya ngobrol biasa, tapi ternyata untuk menyusun kalimat agar menjadi bahasa yang enak untuk didengar dan orang menjadi suka dengan pembicaraan kita menjadi tidak bosan tidak semudah yang kita kira.

Apabila kita berkomunikasi dengan orang yang sudah akrab atau dikenal tentu tidak masalah karena topik maupun bahasan pembicaraan bisa apa saja. Namun, untuk pembicaraan dengan orang yang baru kita kenal terny;ata membutuhkan pemilihan topik yang sesuai dengan kondisi maupun keadaan yang ada saat itu. Hal inilah yang membuat kita merasa grogi bahkan perasaan menjadi tidak karuan karena tidak adanya bahan untuk memulai pembicaraan.

Seringkali pembicaraan dengan teman yang sudah dikenal tidak punya makna, bahkan dianggap tidak penting sehingga topik pembicaraan akan hilang begitu saja setelah selesai ngobrol, padahal sebetulnya Anda dapa tbelajar berkomunikasi serta menambah bahan pembicaraan dari teman-teman kita yang sudah dikenal. Dari mereka kita belajar melihat respon yang muncul dari teman-teman apakah bahasa komunikasi kita dapat diterima orang lain dan dari mereka kita juga dapat belajar serta menambah perbendaharaan topik pembicaraan untuk digunakan apabila berkomunikasi dengan orang lain.

Komuniasi yang baik dengan orang lain terlihat apabila orang yang kita ajak bicara merespon apa yang kita bicarakan, dengan demikian apa yang menjadi pembicaraan kita dapat diterima oleh orang lain. Untuk memulai pembicaraan, tidak harus dengan pembicaraan yang berat (seperti masalah pelajaran, ujian atau yang bersifat ilmiah), namun kita bisa memulai pembicaraan dengan hal-hal yang bersifat ringan seperti bertanya tentang rumah, sekolahnya di mana atau semisalnya.

Pada saat pembicaraan coba untuk memunculkan ide mengenai pembicaraan berikutnya berdasarkan topik yang ada atau apapun yang dapat berkaitan sehingga pembicaraan tersebut dapat nyambung dan berlangsung lebih baik. Bersikaplah tenang meskipun pada awalnya agak grogi karena semakin Anda grogi, maka semakin tidak dapat mencari topik pembicaraan yang baik.
Semoga dapat membantu mengatasi masalah anda.

Dijawab oleh:
Trubus Raharjo, S.Psi, M.Si
Risih, Pacar Hobi Cerita Mantan Lamanya


Tanya :
Perkenalkan, saya HN (27 th) mempunyai seorang kekasih bernama YR (28 th). Saya mempunyai masalah tentang calon pendamping hidup saya itu. Setiap kali saya berkomunikasi dengan dia, saya selalu merasa kurang nyaman karena pasangan saya selalu membahas mantan-mantan kekasihnya di hadapan saya, padahal saya kurang suka dengan sikapnya itu. Yang saya tanyakan, saya harus bagaimana; apakah cuek atau mengalah? Tolong dijelaskan.

Jawab :
Dear adik HN, keraguan akan cinta kekasih terkadang menghantui ketika niat sudah dibulatkan untuk menjadikannya sebagai pasangan hidup. Namun satu hal yang menguatkan ikatan dengan kekasih adalah komitmen bersama, karena komitmen yang dibangun bersama dengan kekasih akan menjadi pengingat dan penyemangat yang mendorong kalian untuk dapat mencapai tujuan berumah tangga kelak. Hidup berkeluarga itu bukan seperti mimpi indah yang dipenuhi dengan tawa dan bahagia, namun lebih seperti berlayar di tengah lautan yang kadang dihadapkan pada badai, sehingga kekompakan, kesabaran, kekuatan (iman, lahir, batin,dll), serta kerja keras sangat dibutuhkan untuk dapat mencapai tujuan berumah tangga. Tentu sebelum bertemu dengan pasangan, masing-masing  punya masa lalu. Jika masa lalu itu justru menjadi sesuatu yang menyakitkan pasangan ketika dibicarakan, seharusnya tidak usah diulang-ulang.

Cukup sekali mungkin karena tidak sengaja dan sebaiknya adik HN seketika itu langsung menyatakan kekurangsukaannya, sehingga pasangan akan dapat lebih menjaga perasaan Anda di lain waktu.
Kecintaan salah satunya dibuktikan dengan keinginan untuk membahagiakan pasangan dan adanya keterbukaan mengatakan isi hati pada pasangan. Jika salah satu pihak masih ragu-ragu untuk mengungkapkan isi hati pada pasangan dan jika salah satu pasangan masih suka membanding-bandingkan mantan-mantan kekasihnya di masa lalu pada pasangannya, bagaimana mungkin bahtera rumah tangga kalian nanti dapat berlabuh di ‘dermaga’ tujuan ?

Saran saya, mulailah membuka lembaran baru dengan calon pasangan hidup Anda dengan cara : (1) membangun komitmen bersama yang kuat untuk mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, (2) jalin komunikasi 2 arah untuk dapat lebih memahami perasaan dan keinginan masing-masing, serta (3) hargailah calon pasangan hidup dengan segenap kelebihan dan kekurangannya agar makin harmonis hubungan kalian. Demikian, semoga bermanfaat.

Dijawab oleh :
Fajar Kawuryan, S.Psi., M.Si.
counter free hit unique web